Reformasiterkini.co.id // KEPULAUAN SELAYAR – Informasi terjadinya kebocoran dan mati mesin oleh KLM Nurul Salsa yang dinakhodai Merlin (35) asal Ujung Jampea Kecamatan Pasimasunggu Timur pada sekitar pukul 11.25 Wita, Rabu 15 Juli 2026. Kapal kayu yang bertonase 78 GT ini dikabarkan mengalami mati mesin disebelah barat bagian selatan Pulau Polassi wilayah Kecamatan Bontosikuyu dalam perjalanan dari Pelabuhan Jampea tujuan Pelabuhan Laut Rauf Rahman Benteng ibukota Kabupaten Kepulauan Selayar Sulsel.
Saat itu juga kata Kepala UPP Kelas III Jampea Nasir Radjab, pihaknya langsung bergerak cepat dengan melakukan koordinasi kepada sejumlah pihak termasuk nakhoda KM Harapan Kita yang kebetulan transit dan akan ke wilayah Maluku dari Surabaya Jawa Timur. Hasil koordinasi dengan nakhoda, Silas Y Letlora maka pihak Syahbandar bersama dengan Tripika menyimpulkan akan menggunakan KM Harapan Kita ke Tempat Kejadian Peristiwa (TKP) yang lokasinya berada disekitar Pulau Polassi guna melakukan upaya pertolongan dan penyelamatan.” pungkasnya.
Sementara itu, Ibnu Ramadhan salah seorang anggota UPP Kelas III Jampea yang ikut dalam proses evakuasi, penyelamatan dan pertolongan korban KLM Nurul Salsa via selulernya menyatakan,” Meskipun KM Harapan Kita diterjang badai dan ombak besar yang disertai angin kencang dengan kondisi gelap gulita saat menuju lokasi kejadian namun jiwa dan semangat sang nakhoda tak pernah kehilangan nyali untuk menyelamatkan para korban.
Sampai kemudian tiba diperairan sebelah barat bagian selatan Pulau Polassi tampak kode cahaya senter bersinar redup akibat terkena percikan air laut dan ombak dari kejauhan. Kapalpun mulai mendekat. Beberapa orang terlihat berenang dan berusaha menyelamatkan diri menggunakan jacket pelampung dan gabus.” pungkas Ibnu.
KLM Nurul Salsa sudah tidak terlihat lagi saat itu lanjut Ibnu. Karena itu penyelamatan langsung dilakukan dengan mengevakuasi beberapa korban yang menggunakan pelampung berupa gabus atau rakit penolong. KM Harapan Kita berhasil mengevakuasi sedikitnya 45 korban namun 1 orang diantaranya sudah dinyatakan meninggal dunia. Namanya Salmawati warga Dusun Parumaang Desa Bontomalling.” kata Ibnu yang didampingi Kepala UPP Kelas III Jampea.
Sekedar diketahui bahwa KLM Nurul Salsa lepas jangkar di Pelabuhan Jampea sektar pukul 06.00 Wita dengan memuat hasil bumi berupa beras, arang, kopra dan 4 ekor sapi serta 73 orang penumpang dengan rincian 4 orng ABK , 45 orang penumpang yang tercatat dalam manifest serta 24 non manifest. Namun peristiwa naas menghalangi saat memasuki perairan Batu Sipo’ong sebelah selatan Pulau Polassi. Mesin kapal mati hingga teseret arus sebelum kapal KLM Nurul Salsa tenggelam sekitar pukul 16.00 sore itu.
Hingga hari ke 9 Kamis 23 Juli pasca tenggelamnya KLM Nurul Salsa, pencarian terhadap sisa korban lainnya yang belum ditemukan masih dilakukan proses pencarian dengan melibatkan berbagai unsur termasuk TNI AL dan Basarnas. (M. Daeng Siudjung Nyulle)
Pengakuan Ibnu Ramadhan, Seorang Penyelamat Dari UPP Kelas III Jampea
Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini






