Oleh: Agus, S.H., M.H., M.S.I.

Reformasiterkini.co.id //Pasca terpilihnya Munafri Arifuddin — akrab disapa Appi — secara aklamasi sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Sulawesi Selatan, muncul fenomena menarik yang patut dicermati. Banyak kader Partai Golkar Makassar mulai berorientasi berpindah ke Partai Demokrat, mengikuti langkah tokoh yang selama ini mereka dukung. Pergeseran ini bukan sekadar urusan administrasi keanggotaan, melainkan perubahan ikatan sosial dan pilihan politik yang dapat dipelajari melalui pendekatan sosiologis-empiris dan politis.

📊 I. TINJAUAN SOSIOLOGIS: IKATAN SOSIAL DAN KEPERCAYAAN

Secara sosiologis, perpindahan kader ini menunjukkan bahwa ikatan personal dan kepercayaan kepada tokoh sering kali lebih kuat daripada ikatan institusi partai. Di tingkat masyarakat, hubungan antarmanusia adalah dasar utama kebersamaan. Ketika seorang tokoh yang selama ini dipercaya dan dekat memindahkan haluannya, wajar jika pengikutnya merasa lebih nyaman mengikuti daripada tetap tinggal di tempat yang terasa asing.

Pengamatan empiris di lapangan memperlihatkan adanya dua kelompok yang merespons secara berbeda:

Kelompok pertama: Kader yang menduduki jabatan di lembaga perwakilan cenderung lebih berhati-hati. Mereka berada di antara dua tarikan — loyalitas kepada tokoh di satu sisi, dan risiko kehilangan jabatan jika pindah di sisi lain. Pertimbangan mereka lebih terikat pada aturan kelembagaan.

Kelompok kedua: Kader di tingkat akar rumput justru menunjukkan kecenderungan yang lebih tegas. Tanpa beban risiko jabatan, mereka lebih bebas mengikuti arah tokoh yang dipercaya. Bagi mereka, kebersamaan dan kedekatan personal adalah alasan yang cukup untuk berpindah.

Fenomena ini membuktikan bahwa di tingkat masyarakat, politik tidak selalu berbicara tentang program atau ideologi — politik juga berbicara tentang kehadiran, kepercayaan, dan rasa memiliki.

📊 II. TINJAUAN POLITIS: KEPENTINGAN DAN HARAPAN MASA DEPAN

Secara politis, perpindahan ini tidak terjadi begitu saja. Ada pertimbangan rasional yang mendasarinya:

Pertama: Posisi strategis figur pemimpin. Appi bukan sekadar ketua partai, beliau juga Wali Kota Makassar. Kedudukan ini membuat kader merasa bahwa kebersamaan dengan pemimpin yang juga memegang pemerintahan memberikan nilai tambah nyata dalam menjalankan peran di tengah masyarakat.

Kedua: Harapan terhadap masa depan. Partai Demokrat di Sulsel kini dipimpin oleh sosok yang memiliki basis dukungan luas di masyarakat. Ditambah dengan figur Ketua Umum Partai di tingkat pusat yang juga populer dan dihormati, kader merasa partai ini memiliki arah yang jelas dan kuat untuk memenangkan pertarungan politik ke depan.

Ketiga: Perubahan orientasi kader. Di era saat ini, pengamatan menunjukkan bahwa kader menentukan pilihan politik lebih didasarkan pada kepentingan praktis dan harapan masa depan, bukan semata-mata pada kesetiaan kepada partai. Jika sebuah partai terasa tidak lagi memberikan ruang dan harapan, wajar jika kader mencari tempat lain yang lebih mewadahi aspirasi mereka.

📊 III. KESIMPULAN

Fenomena eksodus kader Golkar Makassar ke Demokrat adalah cerminan realitas sosial dan politik yang nyata. Secara sosiologis, ini adalah bukti bahwa kedekatan personal dan kepercayaan sosial adalah perekat yang kuat. Secara politis, ini menunjukkan bahwa kader akan selalu mencari tempat yang memberikan harapan, ruang berkembang, dan peluang untuk menang.

“Partai yang mampu merangkul kader dengan kebersamaan yang tulus, pemimpin yang dipercaya, dan visi yang jelas — akan selalu ditemani oleh rakyatnya. Sebaliknya, partai yang menjauh dari aspirasi kader, perlahan namun pasti akan ditinggalkan.”