Mashud Azikin
Reformasiterkini.co.id //Di tengah wajah politik yang kerap dipenuhi hiruk-pikuk saling serang, perebutan panggung, dan perlombaan citra yang melelahkan, ada satu hal yang sering luput dibicarakan: politik sejatinya adalah soal merawat manusia. Bukan sekadar mesin elektoral, bukan hanya hitung-hitungan kursi dan suara, melainkan ruang untuk menumbuhkan solidaritas, loyalitas, dan rasa memiliki terhadap sebuah cita-cita bersama.
Karena itu, kegiatan penguatan kader yang dirangkaikan dengan pengukuhan kader muda dan penyembelihan hewan kurban di Sekretariat DPD II Partai Golkar Kota Makassar, Sabtu (30/5/2026), sesungguhnya tidak hanya dapat dibaca sebagai agenda internal partai. Di balik seremoni atribut, penyematan rompi kader, hingga pembagian daging kurban, tersimpan pesan humaniora yang cukup penting tentang bagaimana sebuah organisasi politik berusaha menjaga denyut kemanusiaannya.
Ketua DPD II Partai Golkar Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyampaikan satu kalimat yang menarik untuk direnungkan: “Kita harus membangun kekuatan internal dahulu lebih kuat, baru kita keluar.”
Dalam dunia politik modern yang sering terjebak pada ekspansi citra, kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat filosofis. Sebab banyak organisasi—baik politik, sosial, bahkan komunitas—terlalu sibuk membangun pencitraan keluar, namun lupa merawat retakan-retakan kecil di dalam tubuhnya sendiri. Padahal, keruntuhan besar sering lahir dari rapuhnya fondasi internal.
Di titik inilah politik menemukan wajah humanioranya: bahwa kekuatan sejati bukan pertama-tama soal dominasi, melainkan kemampuan membangun rasa saling percaya di antara manusia-manusia yang berada di dalamnya.
Soliditas kader bukan sekadar strategi memenangkan pemilu. Ia adalah ikhtiar merawat ikatan sosial di tengah zaman yang semakin cair dan individualistik.
Dalam masyarakat modern, orang semakin mudah terhubung secara digital, tetapi semakin sulit merasa memiliki satu sama lain. Politik kemudian kehilangan ruhnya ketika hanya dipahami sebagai kendaraan kekuasaan tanpa dimensi emosional dan sosial.
Karena itu, ketika Munafri mendorong rekrutmen kader hingga tingkat kecamatan dan kelurahan, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya struktur partai, melainkan juga jejaring sosial yang hidup di tingkat akar rumput.
Politik tidak boleh berhenti di ruang elit; ia harus hadir dalam denyut kampung, lorong, dan percakapan sehari-hari warga.
Pengukuhan dua kader muda, Edy Muharezky dan Muhammad Rayhan Fahrizal Yusuf, juga menyimpan makna simbolik yang penting. Regenerasi dalam politik bukan semata pergantian nama atau usia, melainkan proses pewarisan nilai. Sebuah partai akan menua dan kehilangan relevansi jika gagal membuka ruang bagi energi baru, gagasan baru, dan keberanian generasi muda untuk terlibat.
Di tengah meningkatnya skeptisisme anak muda terhadap politik, langkah menghadirkan kader muda menjadi semacam pesan bahwa politik tidak boleh menjadi ruang eksklusif yang hanya diwariskan oleh lingkaran tertentu. Demokrasi yang sehat justru membutuhkan partisipasi generasi muda yang kritis, kreatif, dan memiliki sensitivitas sosial.
Namun regenerasi juga mengandung tantangan moral. Anak muda yang masuk ke dunia politik tidak cukup hanya diajarkan bagaimana memenangkan pertarungan, tetapi juga bagaimana menjaga nurani. Sebab politik tanpa etika akan melahirkan pragmatisme yang dingin; sementara politik tanpa empati hanya akan menciptakan jarak antara kekuasaan dan rakyat.
Di sinilah momentum Idul Adha memberi refleksi yang lebih dalam.
Penyembelihan hewan kurban di Sekretariat Partai Golkar Makassar bukan sekadar agenda tahunan bernuansa seremonial. Kurban dalam tradisi Islam sesungguhnya mengandung pesan pengorbanan ego, kepentingan pribadi, dan rasa paling benar. Ia mengajarkan bahwa kedekatan kepada Tuhan harus diwujudkan melalui kepedulian kepada sesama manusia.
Dalam konteks organisasi politik, makna kurban menjadi sangat relevan. Sebab salah satu penyakit terbesar organisasi sering kali bukan datang dari luar, melainkan dari ego internal: saling menjatuhkan, perebutan pengaruh, hingga konflik kepentingan yang menggerus solidaritas. Politik menjadi keras ketika manusia gagal mengendalikan ambisinya.
Maka, kurban bisa dibaca sebagai metafora sosial-politik: menyembelih ego demi menjaga persatuan.
Ketika daging kurban dibagikan kepada masyarakat, di situlah politik menemukan fungsi sosialnya yang paling mendasar: menghadirkan manfaat nyata. Rakyat pada akhirnya tidak terlalu sibuk menghitung seberapa megah narasi politik dibangun, tetapi seberapa besar kehadiran organisasi mampu menyentuh kehidupan sehari-hari mereka.
Wakil Ketua DPRD Kota Makassar, Suharmika, menyebut kegiatan itu sebagai momentum mempererat silaturahmi dan meningkatkan kepedulian sosial. Pernyataan tersebut penting di tengah kecenderungan politik yang semakin transaksional. Sebab demokrasi akan kehilangan makna jika relasi antara partai dan masyarakat hanya muncul menjelang pemilu.
Humaniora politik mengajarkan bahwa rakyat bukan objek suara lima tahunan. Mereka adalah manusia yang membutuhkan kehadiran, empati, dan keberpihakan yang konsisten.
Makassar sebagai kota besar yang terus tumbuh menghadapi tantangan sosial yang semakin kompleks: ketimpangan ekonomi, pengangguran anak muda, persoalan lingkungan, hingga krisis
solidaritas sosial di kawasan urban.
Dalam situasi seperti itu, partai politik tidak cukup hanya menjadi mesin perebut kekuasaan. Ia harus mampu menjadi ruang pendidikan sosial dan laboratorium kemanusiaan.
Karena sesungguhnya, ukuran utama kedewasaan politik bukan terletak pada seberapa keras sebuah partai bertarung memenangkan kekuasaan, melainkan seberapa tulus ia menjaga hubungan antarmanusia di dalam dan di luar organisasinya.
Pada akhirnya, publik tentu berharap konsolidasi kader tidak berhenti pada seremoni internal atau retorika persatuan semata. Yang lebih penting adalah bagaimana semangat solidaritas itu diterjemahkan menjadi kerja nyata untuk masyarakat: menghadirkan kebijakan yang berpihak, memperkuat ruang partisipasi warga, dan menjaga politik tetap memiliki hati.
Sebab politik yang kehilangan hati hanya akan melahirkan kekuasaan yang dingin.
Dan mungkin, di tengah aroma daging kurban yang dibagikan dari halaman sekretariat partai itu, terselip satu pelajaran sederhana yang sering terlupakan: bahwa sebelum memenangkan pertarungan di luar, manusia terlebih dahulu harus mampu berdamai dengan ego di dalam dirinya sendiri.






