Reformasiterkini.co.id //Makassar – Memasuki sepekan terakhir jelang Hari Raya Idul Fitri, aktivitas pasar tumpah di sejumlah titik di Kota Makassar kian marak. Pedagang musiman memadati bahu jalan hingga badan jalan, seperti di sepanjang Jembatan Bawakaraeng dan kawasan Pasar Pabaeng-baeng, yang berdampak pada kepadatan arus lalu lintas.

Fenomena ini juga terlihat di beberapa pusat perbelanjaan tradisional, di antaranya Pasar Terong, Pasar Sentral Makassar, Pasar Cendrawasih, hingga kawasan Pasar Senggol. Berbagai kebutuhan lebaran mulai dari pakaian, kue kering, hingga makanan siap saji dijajakan untuk memenuhi tingginya permintaan masyarakat.

Di tengah kondisi jalan yang kian padat, pasar tumpah justru menjadi ruang harapan bagi pedagang kecil. Mereka memanfaatkan momen ini untuk meraih penghasilan tambahan yang hanya datang setahun sekali.

Anti, salah satu pedagang kaki lima musiman di kawasan Pasar Sentral Makassar mengungkapkan rasa syukurnya dapat berjualan di momentum tersebut.

“Alhamdulillah, ini memang momen yang kami tunggu. Pembeli ramai sekali menjelang lebaran, jadi kami bisa menambah penghasilan untuk kebutuhan keluarga,” ujar Anti, saat ditemui, Rabu (18/03/2026).

Meski demikian, para pedagang menyadari keberadaan mereka kerap menimbulkan kemacetan. Namun mereka berupaya tetap menjaga ketertiban selama berjualan.

“Kami berusaha tetap tertib dan jaga kebersihan. Biasanya setelah malam takbiran, kami langsung bongkar lapak supaya jalan kembali normal,” jelasnya.

Setiap tahun, pasar tumpah memang menjadi fenomena musiman yang tak terpisahkan dari suasana Ramadan, khususnya menjelang Idul Fitri. Setelah hari raya usai, aktivitas pedagang musiman ini pun perlahan menghilang dan kawasan pasar kembali seperti sediakala.

Di balik kemacetan yang terjadi, tersimpan denyut ekonomi rakyat kecil yang menggantungkan harapan pada momen singkat menjelang hari kemenangan.